Audiens kedai kopi pagi ini sedikit envy mendengar celoteh seorang pengunjung yang berkata Hamil di negeri tetangga itu menyenangkan.
Kemudian ia bercerita bagaimana seorang kerabatnya, warga negara tetangga, mendapati istrinya positif hamil. Disana setiap ibu hamil dikanakan wajib lapor, menjalani test kehamilan, jika positif, keluarga yang bersangkutan mendapat reward. Kalau dinilai kurang lebih Rp. 37 jt untuk setiap kehamilan yang dilaporkan.
Itu baru permulaan. Selain hadiah uang, Bumil diwajibkan memeriksakan kandungannya dua minggu sekali dan mendapat asupan obat, suplemen hingga saat melahirkan dan semuanya gratis. Lucunya, jika Bumil kelewat lupa periksa, si ayah bisa dipidana karena dianggap lalai.
Pertanyaannya, kenapa bumil diperlakukan istimewa? Jawabannya singkat,negara tidak mau rugi. Hadeeeh, ajaib!
Alasannya simpel, biaya menjaga kondisi bumil hingga melahirkan seorang bayi yang sehat lebih murah. Kalau warganya sehat, negara kuat. Lebih baik menjaga daripada mengobati, negara rugi kalau warganya sakit-sakitan, biaya yang dikeluarkan lebih besar, dan mereka menjaganya semenjak seseorang masih di dalam kandungan.
Paradoks, itu yang muncul dalam benak saya. Perspektif layanan kesehatan yang saya mengerti selama ini adalah mengobati bukan menjaganya. Banyak diantara kita menyisihkan sebagian besar uang untuk biaya kesehatan (pengobatan). Jarang ada yang berpikir keluar biaya untuk tetap sehat.
Entah, diluar sana apakah kebanyakan orang punya perspektif yang demikian? Kalau melihat kondisi yang ada, saya skeptis. Negara? Saya kok malah makin pesimis. Jujur, disini sakit itu komoditi!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar