Audiens kedai kopi pagi ini sedikit envy mendengar celoteh seorang pengunjung yang berkata Hamil di negeri tetangga itu menyenangkan.
Kemudian ia bercerita bagaimana seorang kerabatnya, warga negara tetangga, mendapati istrinya positif hamil. Disana setiap ibu hamil dikanakan wajib lapor, menjalani test kehamilan, jika positif, keluarga yang bersangkutan mendapat reward. Kalau dinilai kurang lebih Rp. 37 jt untuk setiap kehamilan yang dilaporkan.
Itu baru permulaan. Selain hadiah uang, Bumil diwajibkan memeriksakan kandungannya dua minggu sekali dan mendapat asupan obat, suplemen hingga saat melahirkan dan semuanya gratis. Lucunya, jika Bumil kelewat lupa periksa, si ayah bisa dipidana karena dianggap lalai.
Pertanyaannya, kenapa bumil diperlakukan istimewa? Jawabannya singkat,negara tidak mau rugi. Hadeeeh, ajaib!
Alasannya simpel, biaya menjaga kondisi bumil hingga melahirkan seorang bayi yang sehat lebih murah. Kalau warganya sehat, negara kuat. Lebih baik menjaga daripada mengobati, negara rugi kalau warganya sakit-sakitan, biaya yang dikeluarkan lebih besar, dan mereka menjaganya semenjak seseorang masih di dalam kandungan.
Paradoks, itu yang muncul dalam benak saya. Perspektif layanan kesehatan yang saya mengerti selama ini adalah mengobati bukan menjaganya. Banyak diantara kita menyisihkan sebagian besar uang untuk biaya kesehatan (pengobatan). Jarang ada yang berpikir keluar biaya untuk tetap sehat.
Entah, diluar sana apakah kebanyakan orang punya perspektif yang demikian? Kalau melihat kondisi yang ada, saya skeptis. Negara? Saya kok malah makin pesimis. Jujur, disini sakit itu komoditi!
Jumat, 01 Maret 2013
Made in Heaven
Dialog kedai kopi hari ini agak berbeda. Hampir disetiap perbincangan kerap terdengar kritikan, rasa tidak puas, frustasi, kecemburuan dan kekecewaan. Namun kali ini bincang kedai kopi sedikit mengingatkan begitu beruntungnya kita, bangsa Indonesia.
Dialog dibuka dengan celetukan seorang pengunjung kedai kopi yang secara spontan berkata "don't You see, how lucky we are!" Rupanya ia baru saja melihat tayangan televisi yang kebetulan menampilkan peliputan sebuah pasar tradisional.
Kemudian ia menambahkan "Anda tau berapa harga satu ikat daun singkong di Australia dan bagaimana susahnya mencari kangkung cabut disana. Untuk makan makanan yang mirip sajian setiap hari seperti di warung padang disini; rendang, kari, ikan bakar, opor, gulai, bahkan lalap pete' mereka harus rela menunggu paling tidak sebulan sekali untuk dapat menikmatinya. Atau makanan tersebut tidak cocok dengan selera mereka sehingga cukup sebulan sekali mencicipinya? -- Keliru! Mereka suka, tapi untuk menyantapnya terlalu mahal!"
Kemudian ia melanjutkan ceritanya "mereka sangat menyukai masakan berbumbu, namun secara tradisi mereka hanya mengenal susu, bawang, keju dan mentega sebagai bahan dasar masakan. Kalaupun ada, mereka import dari kita. Bedakan dengan ratusan bahkan ribuan kombinasi macam bumbu dinegeri ini. Anda mungkin terkejut mengetahui berapa harga biji ketumbar per gramnya, berapa harga satu batang daun sereh, lembaran daun pohon salam, biji lada, pala, kunyit, jahe, cabe merah, bawang perai, mpon-mponan itu barang langka!"
"Dalam memasak makanan, mereka cuma mengenal anggur, cuka, saus tomat dan susu sebagai katalis. Kalau anda berpikir bule' kebal rasa "eneg" anda keliru. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kari dimasak tanpa santan tapi diganti dengan susu. Bandingkan dengan katalis disini, kita punya puluhan macam jenis jeruk bumbu, puluhan spesies tomat, kelapa untuk santan, nira, taucho, dan banyak lagi, semuanya bisa dibeli murah tanpa menunggu sampai akhir bulan waktu gajian."
"Kita mungkin pernah mendengar sajian makanan telur ikan trout, caviar, lezatnya daging ikan salmon yang harganya selangit -- lupakan fantasi bagaimana rasa makanan yang disebut tadi. Jika anda pernah mencicipi daging ikan Bandeng, telur ikan Biawan. Jika masih kurang, ada ikan Nila, Pepuyu (most delicious taste I've ever had) dan Gurami, ikan-ikan ini jauh lebih lezat dengan harga tidak perlu sampai manjat ke langit."
"Itu baru makanan, minuman lain lagi ceritanya. Sewaktu kuliah disana, saya sempat mendapat undangan ngopi bareng. Tuan rumah dengan bangganya menyuguhkan kopi murni yang digiling sendiri kemudian disangrai dengan kelapa parut goreng dan sedikit mentega. Undangan terbatas pada orang tertentu saja dan mereka menikmati kopi seperti tidak pernah meminum kopi tubruk seumur hidupnya. Ritual ini ditutup dengan menikmati sajian teh melati wangi dengan sedikit biskuit sebagai kudapan dan tentu saja "Rokok Kretek". Mereka bilang ini surga! Pendek kata, pulang liburan ke Indonesia, saya memborong kopi tumbuk, teh melati dan rokok kretek sebanyak yang bisa saya bawa."
"Indonesian cuisine, just look upon the stumble dish, you can read clearly "Made in Heaven". Cheap and almost free! Seperti itulah ungkapan mereka tentang masakan Indonesia, seperti di surga."
Saya hanya bisa menggumam lirih mendengar mereka bercerita, kemudian melempar pandangan ke arah gerai fastfood diseberang kedai kopi. Sebulan sekali beberapa orang dari kita menyisihkan uang untuk dapat mencicipi makanan yang mereka sebut "junkfood", lupa kalau surga makanan hampir tiap hari kita cicipi.
Miss nasi pincuk soo much!
Dialog dibuka dengan celetukan seorang pengunjung kedai kopi yang secara spontan berkata "don't You see, how lucky we are!" Rupanya ia baru saja melihat tayangan televisi yang kebetulan menampilkan peliputan sebuah pasar tradisional.
Kemudian ia menambahkan "Anda tau berapa harga satu ikat daun singkong di Australia dan bagaimana susahnya mencari kangkung cabut disana. Untuk makan makanan yang mirip sajian setiap hari seperti di warung padang disini; rendang, kari, ikan bakar, opor, gulai, bahkan lalap pete' mereka harus rela menunggu paling tidak sebulan sekali untuk dapat menikmatinya. Atau makanan tersebut tidak cocok dengan selera mereka sehingga cukup sebulan sekali mencicipinya? -- Keliru! Mereka suka, tapi untuk menyantapnya terlalu mahal!"
Kemudian ia melanjutkan ceritanya "mereka sangat menyukai masakan berbumbu, namun secara tradisi mereka hanya mengenal susu, bawang, keju dan mentega sebagai bahan dasar masakan. Kalaupun ada, mereka import dari kita. Bedakan dengan ratusan bahkan ribuan kombinasi macam bumbu dinegeri ini. Anda mungkin terkejut mengetahui berapa harga biji ketumbar per gramnya, berapa harga satu batang daun sereh, lembaran daun pohon salam, biji lada, pala, kunyit, jahe, cabe merah, bawang perai, mpon-mponan itu barang langka!"
"Dalam memasak makanan, mereka cuma mengenal anggur, cuka, saus tomat dan susu sebagai katalis. Kalau anda berpikir bule' kebal rasa "eneg" anda keliru. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya kari dimasak tanpa santan tapi diganti dengan susu. Bandingkan dengan katalis disini, kita punya puluhan macam jenis jeruk bumbu, puluhan spesies tomat, kelapa untuk santan, nira, taucho, dan banyak lagi, semuanya bisa dibeli murah tanpa menunggu sampai akhir bulan waktu gajian."
"Kita mungkin pernah mendengar sajian makanan telur ikan trout, caviar, lezatnya daging ikan salmon yang harganya selangit -- lupakan fantasi bagaimana rasa makanan yang disebut tadi. Jika anda pernah mencicipi daging ikan Bandeng, telur ikan Biawan. Jika masih kurang, ada ikan Nila, Pepuyu (most delicious taste I've ever had) dan Gurami, ikan-ikan ini jauh lebih lezat dengan harga tidak perlu sampai manjat ke langit."
"Itu baru makanan, minuman lain lagi ceritanya. Sewaktu kuliah disana, saya sempat mendapat undangan ngopi bareng. Tuan rumah dengan bangganya menyuguhkan kopi murni yang digiling sendiri kemudian disangrai dengan kelapa parut goreng dan sedikit mentega. Undangan terbatas pada orang tertentu saja dan mereka menikmati kopi seperti tidak pernah meminum kopi tubruk seumur hidupnya. Ritual ini ditutup dengan menikmati sajian teh melati wangi dengan sedikit biskuit sebagai kudapan dan tentu saja "Rokok Kretek". Mereka bilang ini surga! Pendek kata, pulang liburan ke Indonesia, saya memborong kopi tumbuk, teh melati dan rokok kretek sebanyak yang bisa saya bawa."
"Indonesian cuisine, just look upon the stumble dish, you can read clearly "Made in Heaven". Cheap and almost free! Seperti itulah ungkapan mereka tentang masakan Indonesia, seperti di surga."
Saya hanya bisa menggumam lirih mendengar mereka bercerita, kemudian melempar pandangan ke arah gerai fastfood diseberang kedai kopi. Sebulan sekali beberapa orang dari kita menyisihkan uang untuk dapat mencicipi makanan yang mereka sebut "junkfood", lupa kalau surga makanan hampir tiap hari kita cicipi.
Miss nasi pincuk soo much!
Dangdhut is the Music of my Country
Dialog kedai kopi pagi ini lumayan membuat saya nyengir-nyengir sendiri. Temanya, keunikan lagu dangdhut. Entah kenapa, setiap mendengar lagu dangdhut dinyanyikan, saya jadi geli pengen tertawa ヅ
Mungkin frase, ungkapan lirik lagu dangdhut yang tidak umum, khas hiperbola (lebay), norak, bahkan sebagian orang menganggapnya kampungan. Tapi menurut saya, justru hal tersebut membuatnya begitu populer di negeri ini.
Banyak sekali contoh, ide-ide yang tidak umum menjadi tema judul lagu dangdhut. Pengunjung kedai kopi antusias menyebut beberapa diantaranya:Sabu, Sarapan Bubur, Memori Daun Pisang, Mandi Kembang, mbah Dukun, Tamu tak di Undang, Pengemis Cinta, Kucing Garong, SMS, bahkan Miss Callbisa dijadikan tema lagu.
Belum lagi frase-frase menggelitik yang dijadikan lirik seperti:
"Benang biru kau sulam menjadi kelambu" (emang kenapa?)
"Baju satu made in Jepang, sekali pakai lalu dibuang" (LOL)
"Bang Toyib sudah dua lebaran ngak pulang-pulang" (kasian...)
"Mabuk judi ditambah lagi mabuk janda" (hallaah)
"Engkau masih gadis apa sudah janda, walau kamu janda tetap ku cinta" ← Juara banget liriknya ЩĸЩĸЩĸЩĸ
"RT 3, RW 5, 10 ... nomor rumahku, jalannya... jalan cintaaaa" #eaaa emang ada ヅ
Terkadang tema lagu dangdhut ini hiperbola, lebaynya puooll... kebayang kalau ada yang beneran bilang lebih baik akuuu mati ditanganmu, daripada aku mati bunuh diri (lucu tapi horor gitu). Ada lagi yang bisa mandi kembang tengah malam, jangan kau lakukan... nah, lho!
Banyak lagi contoh lagu dangdhut yang lirik dan temanya dapat membuat kita tersenyum bahkan tertawa. Namun satu hal yang saya apresiasi dari genre musik ini adalah, konsisten dalam menggali khazanah bahasa Indonesia. Mereka mencipta trend dan genrenya sendiri tanpa banyak dipengaruhi musik luar terutama ekplorasi lirik dan temanya. Tanpa mengurangi respek saya kepada jenis musik lain yang sudah membumi di Indonesia, rasanya tidak berlebihan, mengutip lirik lagu P Project Dangdhut is the Music of my Country.
Mungkin frase, ungkapan lirik lagu dangdhut yang tidak umum, khas hiperbola (lebay), norak, bahkan sebagian orang menganggapnya kampungan. Tapi menurut saya, justru hal tersebut membuatnya begitu populer di negeri ini.
Banyak sekali contoh, ide-ide yang tidak umum menjadi tema judul lagu dangdhut. Pengunjung kedai kopi antusias menyebut beberapa diantaranya:Sabu, Sarapan Bubur, Memori Daun Pisang, Mandi Kembang, mbah Dukun, Tamu tak di Undang, Pengemis Cinta, Kucing Garong, SMS, bahkan Miss Callbisa dijadikan tema lagu.
Belum lagi frase-frase menggelitik yang dijadikan lirik seperti:
"Benang biru kau sulam menjadi kelambu" (emang kenapa?)
"Baju satu made in Jepang, sekali pakai lalu dibuang" (LOL)
"Bang Toyib sudah dua lebaran ngak pulang-pulang" (kasian...)
"Mabuk judi ditambah lagi mabuk janda" (hallaah)
"Engkau masih gadis apa sudah janda, walau kamu janda tetap ku cinta" ← Juara banget liriknya ЩĸЩĸЩĸЩĸ
"RT 3, RW 5, 10 ... nomor rumahku, jalannya... jalan cintaaaa" #eaaa emang ada ヅ
Terkadang tema lagu dangdhut ini hiperbola, lebaynya puooll... kebayang kalau ada yang beneran bilang lebih baik akuuu mati ditanganmu, daripada aku mati bunuh diri (lucu tapi horor gitu). Ada lagi yang bisa mandi kembang tengah malam, jangan kau lakukan... nah, lho!
Banyak lagi contoh lagu dangdhut yang lirik dan temanya dapat membuat kita tersenyum bahkan tertawa. Namun satu hal yang saya apresiasi dari genre musik ini adalah, konsisten dalam menggali khazanah bahasa Indonesia. Mereka mencipta trend dan genrenya sendiri tanpa banyak dipengaruhi musik luar terutama ekplorasi lirik dan temanya. Tanpa mengurangi respek saya kepada jenis musik lain yang sudah membumi di Indonesia, rasanya tidak berlebihan, mengutip lirik lagu P Project Dangdhut is the Music of my Country.
Samarinda Bekesah
Surprise juga waktu dikontak +Ade Fadli kalau konten blog saya dibuat jadi sebuah buku dan dipublish: Samarinda Bekesah aka Samarinda Bercerita.
Masalahnya, saya cuma sekedar menulis, sehingga banyak kaedah-kaedah penulisan yang terabaikan. Apalagi, di buku ini tulisan saya disandingkan dengan beberapa karya penulis yang lebih punya pengalaman dan teknik menulis. Bawaannya jadi kurang PD ヅ
BTW, thanks buat teman-teman di isamarinda.net Julak @timpakul, editor cantik Nia Miranti dan Begawan Yustinus Esha
http://nulisbuku.com/books/view/samarinda-bekesah-01
Langganan:
Postingan (Atom)